Visi Riau | Visi Riau Madani

Fakultas Kebijaksanaan

176

visiriauOpini – Kebijaksanaan selalu dihubungkan dengan dunia timur sementara dunia barat digambarkan sebagai dunia yang rigid rasional dan logis. Bagi dunia timur, kebijaksanaan adalah hasil atau buah dari ketekunan belajar dan mencari pengetahuan. Pengetahuan seluas apapun tidak cukup bila tidak menjadikan bijaksana sebagaimana dalam ungkapan Jawa: bener ning ora pener.

Untuk menjadi bijaksana, tak cukup dibekali pengetahuan tapi juga pemahaman situasi dan kondisi sehingga bisa mengambil keputusan dan tindakan yang benar dan tepat. Ungkapan yang lain misalnya ngono ya ngono ning aja ngono menunjukkan segala sesuatu tindakan harus dilihat akibat dan dampak yang lebih luas. Tampak jelas bahwa kebijaksanaan dan menjadi orang yang bijak adalah tujuan tertinggi dari pencarian akan pengetahuan.

Sebagaimana juga terkandung dalam cerita yang cukup populer tentang pertengkaran Murid Bodoh melawan Murid Pintar mengenai hasil dari hitungan 3 x 7. Murid pintar menjawab 21 sementara murid bodoh menjawab 27. Murid yang bodoh bersedia memenggal lehernya sendiri bila ternyata jawabannya salah. Keduanya menghadap guru yang menyelesaikan secara bijaksana bukan secara kebenaran. Sebab bila dari sudut kebenaran, Sang Guru tentu saja akan kehilangan murid yang bodoh. Ia memilih mencambuk muridnya yang pintar 10 kali agar juga semakin arif dan bijaksana.

Di Jawa, kita benar-benar mendapatkan dua murid yang pintar, berani dan setia pada prinsip tetapi tidak disertai kebijaksanaan yang justru berakhir tragis dan memilukan. Keduanya mati sampyuh dalam mempertahankan amanat Sang Guru. Begitulah cerita rakyat di balik kelahiran aksara Jawa.

Mpu Seda dengan indah menggambarkan bagaimana kebijaksanaan bisa datang dan pergi dalam Kakawin Baratayudha:

“Kresna sangat senang, Ketika ia melihat keramahan yang ditunjukkan Aria dan Bisma kepadanya. Kemudian datang raja Astina yang melayaninya dengan halus. Namun, kedatangannya tidak membawa hasil, karena Kresna menolaknya.

Sang Raja Kurawa berkata dengan nada marah kepada yang diberkati di antara manusia:

‘O! Yang tersuci di antara manusia, yang suka menilai diri terlalu tinggi, Menolak untuk menerima hidangan yang kusiapkan untukmu, Tidak sepantasnya engkau termasuk dalam golongan orang yang bijak dan penting di dunia.’

Kresna menjawab: ‘Diberi tugas oleh yang lain, untuk menerima makanan yang kau berikan padaku, akan seperti meminum racun, sementara tugasku belum selesai.’

Itulah perkataan dari orang suci di antara manusia, sesaat kehilangan watak seorang pandita (dikutip dari Thomas Stamford Raffles, The History of Jawa, Narasi, Yogyakarta, 2014; 306).

Terus tetap menjadi bijaksana itulah tugas manusia dalam kehidupan ini. . Hal ini diusahakan terus-menerus dengan mencintai kebijaksanaan sebagai buah dari studi ilmu dan pengetahuan. Seharusnya itu juga yang terjadi di dunia barat sebab Itulah juga arti mendasar dari studi filsafat yang dalam bahasa Yunani dikenal dalam ungkapan philein sophia: mencintai kebijaksanaan atau Philosophia. Orang yang terus berpraktik mencari dan mencintai kebijaksanaan disebut Filosof atau filsuf.

Sementara kita ketahui bahwa akar dari filsafat Barat bahkan seringkali kita menganggap bahwa akar studi filsafat secara umum adalah alam pikir Yunani Kuno. Sebelum Filsafat menjadi studi yang lengkap, sistematis, jelimet dan spekulatif, dari asal katanya “Mencintai Kebijaksanaan” itu, tampak bahwa pada mulanya di Barat dan di Timur, kebijaksanaan adalah tujuan dari pencarian ilmu pengetahuan sehingga dapat secara praktis membantu juga menyelesaikan persoalan manusia sehari-hari yang kompleks.

Studi menjadi bijaksana ini sampai pada kita barangkali melalui filsuf-filsuf Islam atau Arab sehingga kita lebih akrab dengan ungkapan Filsafat dan falsafah. Fakultas studi mencintai kebijaksanaan yang dianggap sebagai induk ilmu pengetahuan pun kemudian bernama Fakultas Filsafat.

Menengok dari arti kata Filsafat yaitu mencintai kebijaksanaan dan bagaimana seharusnya praktik orang yang berilmu dan berpengetahuan seharusnya semakin bijaksana, terasa lebih pas dengan kehidupan (sejarah) pengetahuan Indonesia (Nusantara) bila Fakultas Filsafat diubah menjadi Fakultas Kebijaksanaan. Tiada yang lebih indah dan membahagiakan bila kebijaksanaan selalu menyelimuti pikiran para pemimpin bangsa kita dalam menyelesaikan berbagai persoalan bangsa dan rakyat; tidak sekadar bertumpu pada pengetahuan dan kebenaran yang bisa jadi bertentangan dengan kemanusiaan!

Penulis: AJ Susmana

sumber: berdikari online

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.