Visi Riau | Visi Riau Madani

Akhiri Perang Suriah dengan Kongres Dialog Nasional

183

visiriauDamaskus – Perang sipil Suriah tampaknya telah dimenangkan oleh pemerintah Presiden Bashar al-Assad setelah presiden Rusia, Iran dan Turki mengumumkan deklarasi bersama yang menyetujui untuk bekerja sama dalam mengurangi ketegangan, memulihkan keadaan normal dan melindungi kedaulatan Suriah yang baru saja dilanda perang dan bencana

Seperti dikutip dari Telesure, Presiden Rusia Vladimir Putin kepada wartawan pada hari Rabu (22/11) setelah pertemuan puncak Trilateral di Kota Resor Sochi Laut Hitam, Putin menegaskan bahwa konsolidasi yang dilakukan ketiga negara bertujuan untuk membangun Suriah paska perang.

“Prioritas kerja sama lebih lanjut Rusia, Turki dan Iran, memiliki tujuan dalam menyelesaikan masalah Suriah, dan menetapkan program konkrit untuk masa depan Suriah,” tegasPutin.  Dia juga menambahkan bahwa perundingan antara ketiga kepala negara tersebut membahas agenda “pembangunan dan kerjasama ekonomi.”

Dalam sebuah pernyataan bersama, ketiga pemimpin tersebut meminta pemerintah Suriah dan oposisi moderat untuk “berpartisipasi secara aktif” dalam Kongres Dialog Nasional yang akan segera berlangsung.

“Kongres akan membahas persoalan utama di Suriah,” kata Putin kepada wartawan di KTT tersebut, saat duduk dengan pemimpin Iran, Rouhani dan Pemimpin Turki, Erdogan.

Setelah terlibat membantu Pemerintahan Assad mengatasi persoalan internal Suriah, Rusia bersamaan dengan sekutu utamanya Iran dan Lebanon serta milisi Hizbullah, Putin tampaknya ingin mengambil peran aktif di dunia Internasional untuk mengakhiri perang dengan persyaratan yang sesuai dengan Republik Arab Suriah.

“Saya mengapresiasi langkah kerjasama ini. Bersama Presiden Iran dan Turki, Saya menyambut baik gagasan untuk mengadakan forum pan-Suriah dalam Kongres Dialog Nasional Suriah yang akan segera berlangsung,” kata Putin, seperti dilansir dari kantor berita Rusia.

Assad, Rouhani dan Erdogan, serta Putin selaku tuan rumah kongres Dialog Nasional Suriah juga telah mengundang Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Raja Saudi Salman untuk dapat hadir dalam kongres tersebut.

Sementara itu, sebuah pertemuan kelompok anti-pemerintah garis keras Suriah bertemu di Riyadh untuk mencari posisi bersatu menjelang perundingan perdamaian. Mereka tetap bersikeras dengan tuntutan mundurnya Assad, seperti dilansir dari pemberitaan televisi al-Arabiya milik Arab Saudi.

Kelompok oposisi mengadakan pertemuan pada hari Rabu (22/11) di sebuah hotel mewah di Riyadh, dua hari setelah pemimpin Komite Negosiasi Tinggi (HNC) menghentikan perundingan secara tiba-tiba. Kepala HNC Riyad Hijab dikenal sebagai loyalis Raja Salman, dan dia tetap pada posisi bahwa Assad tidak memiliki peran dalam transisi politik apapun untuk Suriah.

Kerajaan Arab Saudi sepertinya sangat cemas dengan Assad meluasnya hegemoni Iran dikawasan Arab. Karenanya, Arab Saudi menjadi negara pendonor terbesar untuk berbagai kelompok oposisi, termasuk kelompok ekstrimis Sunni demi mengimbangi hegemoni Iran, musuh politiknya sejak Revolusi Islam Iran.

Riyadh juga menyesalkan peran pemerintahan Rusia di Suriah, terutama setelah Raja Salman melakukan kunjungan bersejarah ke Moskow beberapa bulan yang lalu. Kerajaan tersebut tampaknya tidak mau mengakui realitas regional baru dimana Iran dan sekutunya akan terus berperan di Suriah.

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.