Visi Riau | Visi Riau Madani

Seniman dan Zamannya

0 120

visiriau Wawancara Sastra – 

Sebagai seniman, apakah Anda telah memilih peran sebagai “saksi”?

– Peran seperti itu membutuhkan persyaratan atau ketrampilan luar biasa yang tidak saya miliki. Secara pribadi saya tidak minta satu peran pun dan saya hanya memiliki satu jenis ketrampilan saja. Sebagai manusia, saya lebih menghendaki kebahagiaan; sebagai seniman, bagi saya rasanya masih ada tokoh-tokoh yang harus saya hidupkan tanpa bantuan perang atau pengadilan. Saya pun telah diperiksa orang luar dalam, sebagaimana orang lain juga telah diperlakukan begitu. Seniman zaman dahulu setidaknya bisa diam saja di hadapan tirani. Sementara itu tirani masa kini lebih maju, mereka tidak lagi menerima sikap diam atau netral. Karena itu orang harus memiliki pendirian, memihak atau menentang. Dalam hal ini saya termasuk yang menentang.

Tetapi ini tidak berarti saya memilih peran sebagai saksi yang tenteram damai. Ini berarti, saya harus menerima zaman seperti apa adanya, menanggapi apa akibatnya pada diri kita. Selain itu, Anda lupa bahwa hakim, terdakwa, dan saksi mata masa kini sangat mudah bertukar posisi. Pilihan saya, kalau Anda masih menganggap saya memiliki sesuatu, paling tidak bukanlah untuk duduk di atas bangku hakim, atau di bawahnya hakim, seperti kebanyakan filsuf. Walaupun begitu, relatif saya tidak akan diberi kesempatan. Kegiatan dalam serikat dagang adalah yang paling saya dahulukan saat ini, karena hasilnya sangat nyata.

Apakah khayalan, yang banyak Anda kritik pada karya-karya mutakhir Anda, bukankah merupakan definisi idealistis dan romantis tentang seniman?

– Betapapun kata-kata diputarbalikkan, makna kata-kata itu tetap tersirat. Dan jelas bagi saya bahwa kaum romantis adalah mereka yang memilih gerak abadi sejarah, epos-epos besar, dan pernyataan akan timbulnya peristiwa penuh mukjizat pada akhir zaman nanti. Jika saya mencoba mendefinisikan sesuatu, maka sebaliknya akan saya katakan bahwa semua itu tidak lebih dari keberadaan sejarah dan manusia di dalam kehidupan sehari-hari dengan segala suka dukanya, perjuangan melawan kenistaan diri dan kenistaan orang lain.

Dengan demikian hal itu juga merupakan suatu idealisme, jenis yang terburuk, yang berakhir dengan menggantungkan segala tindakan dan semua kebenaran dalam satu makna sejarah, yang muncul secara nyata dalam kasus tertentu mempunyai suatu tujuan mitis. Jadi realismekah ini jika orang menggunakan hukum-hukum masa datang—dengan kata lain, sesuatu yang belum menjadi sejarah, sesuatu yang hakekatnya belum kita ketahui?

Bagi saya justru sebaliknya. Saya mempertahankan suatu realisme sejati dan menolak yang tidak masuk akal dan menyesatkan, serta melawan nihilisme romantis—entah yang borjuis ataupun yang revolusioner. Terus terang saja, saya tidak memiliki sifat romantis, saya percaya akan perlunya aturan dan ketertiban. Tentu tidak perlu dipertanyakan lagi aturan macam apa yang harus ada. Dan akan mengejutkan orang kalau aturan yang kita butuhkan itu justru dari masyarakat yang kacau, atau sebaliknya, dari para penganut doktirn-doktrin yang dengan lantang menyatakan dirinya telah bebas dari segala aturan dan keresahan.

Kaum Marxis dan pengikut-pengikutnya menganggap dirinya kaum humanis. Dan mereka berpendapat bahwa hakikat manusia akan terbentuk oleh masyarakat tanpa kelas pada masa akan datang nanti.

– Dari sini dapat saya lihat bahwa mereka menolak kenyataan yang ada pada diri kita saat ini; para humanis itu sendiri menuduh manusia lain berbuat sewenang-wenang. Kita tidak perlu heran bila pengakuan seperti itu muncul di dunia yang memberlakukan sistem pengadlan. Mereka menolak manusia sekarang atas nama manusia masa depan. Pengakuan ini memiliki akar religius. Apa perlunya hal itu dianggap lebih adil, dibandingkan dengan pengakuan yang menyatakan bahwa kerajaan surga akan datang? Dalam kenyataannya akhir sejarah tidak pernah memiliki bentuk nyata yang tegas, dalam batas-batas kondisi kita saat ini. Ia hanya dapat menjadi semacam obyek iman dan sejenis mistifikasi baru. Mistifikasi yang pada saat ini tidak kurang hebatnya dibandingkan dengan yang lama, yang menghalalkan penindasan kolonial berdasarkan perlunya mengisi iman pada orang-orang kafir.

Apakah bukan hal itu yang dalam kenyataannya membedakan Anda dengan para cendekiawan kiri?

– Maksud Anda itukah yang memisahkan kaum cendekiawan dari golongan kiri, begitu? Pada umumnya kaum kiri selalu menentang ketidak-adilan, penindasan, dan pengingkaran hak. Orang selalu beranggapan bahwa fenomena-fenomena itu saling bertaut satu sama lain. Anggapan bahwa pengingkaran hak dapat melahirkan keadilan, kepentingan nasional melahirkan kemerdekaan, adalah pendapat baru. Yang sesungguhnya terjadi, sebagian cendekiawan kiri (syukurlah tidak semua) saat ini terbius oleh kekuatan dan keampuhannya sebagaimana terjadi pada para cendekiawan kanan sebelum dan selama Perang Dunia II. Sikap mereka saling berbeda, tetapi tindakan pasrahnya sama saja. Yang satu ingin menjadi nasionalis realistis, yang lain ingin menjadi sosialis realistis. Pada akhirnya mereka sama-sama menghianati nasionalisme dan sosialisme demi suatu realisme hampa tetapi dipuja-puja sebagai keampuhan yang murni meski hanya khayalan.

Ini suatu godaan yang bagaimanapun juga dapat dipahami. Namun walaupun masalah ini dapat dilihat dari mana saja, pendapat baru orang-orang yang menamakan (dan mengira) dirinya orang-orang kiri, terkandung dalam ungkapan: penindasan-penindasan tertentu diperlukan ideologi itu karena memenuhi arah—yang sulit dibenarkan—sejarah. Karena itu kita menjumpai adanya algojo-algojo yang dibutuhkan, meski tidak jelas dibutuhkan karena apa. Inilah kira-kira apa yang pernah diucapkan oleh Joseph de Maistre, yang belum pernah masuk penjara. Tetapi tesis itulah yang secara pribadi harus selalu saya tolak. Jadi izinkanlah saya menentang pendapat di atas, pendapat tradisional yang selalu dianut oleh mereka yang menamakan diri kaum kiri, sebab bagaimanapun juga semua algojo berasal dari jenis manusia yang sama.

Apa yang dapat dilakukan seniman dalam situasi dunia masa kini?

– Seniman tidak dimintai menulis tentang kerja sama dengan tiran, ataupun sebaliknya meninabobokkan penderitaan yang terkandung dalam dirinya dan telah dialami banyak orang sepanjang sejarah. Dan karena Anda menanyai saya secara pribadi, akan saya jawab dan lakukan sesederhana mungkin. Karena dianggap sebagai seniman, kami mungkin merasa tidak perlu mencampuri urusan dunia. Tetapi karena kami juga manusia, hal itu menjadi perlu. Para pekerja tambang yang diperas dan ditembaki, budak-budak kamp kerja paksa, para penduduk daerah jajahan, kumpulan semua orang yang tertuduh di seluruh dunia—mereka butuh bantuan dari orang-orang yang mampu berkomunikasi untuk menyampaikan sikap diam mereka dan menjalin hubungan dengan mereka itu. Saya tidak lagi menulis tentang perlawanan, dan tidak mengambil bagian dalam perjuangan sehati-hari karena saya berniat menghiasi dunia dengan patung dan adikarya Yunani. Pribadi yang berminat seperti itu sungguh-sungguh ada dalam diri saya. Hanya saja ia memiliki tugas-tugas yang lebih penting, yaitu mencoba memberi warna hidup pada makhluk khayalannya. Tetapi dari tulisan saya yang paling awal sampai buku saya yang paling akhir, hanya karena saya tidak dapat bertahan agar tidak terseret ke dalam situasi hidup sehari-hari, saya telah banyak menulis, barangkali tidak terlalu banyak, tentang mereka yang disia-siakan dan dihina—siapa pun mereka itu. Orang-orang itu perlu memiliki harapan, dan jika semuanya tetap bungkam atau diharuskan memilih dua jenis penghinaan, mereka akan selama-lamanya kehilangan harapan dan kita akan bernasib sama. Bagi saya sangat mustahil bertahan terhadap pikiran demikian, ataupun kalau mampu lalu akan menyepi dan tidur dalam lindungan putri-putri kastilnya. Bukan karena adanya semacam kebajikan, tetapi karena sejenis perasaan tidak tahan yang hampir-hampir merupakan intoleransi organis, yang Anda rasakan atau tidak. Saya lihat bahwa banyak orang yang tidak bisa merasakan itu, tapi saya tidak iri akan keterlenaan mereka.

Demikian pun ini bukan berarti bahwa kita harus mengorbankan hakikat kita sebagai seniman untuk kemudian melakukan khotbah-khotbah sosial. Saya pernah mengatakan di tempat lain apa sebabnya saat ini seniman sangat dibutuhkan. Karena jika kita dituntut bertindak sebagai manusia, pengalaman sebagai seniman akan mempengaruhi santun bahasa kita. Dan kalau tidak menjadi seniman melalui bahasa, lalu seniman macam apa pula kita ini? Bahkan jika misalnya kita bersikap militan dalam hidup kita dan dalam karya-karya kita, kita berbicara masalah pengingkaran tanggung jawab dan cinta semu. Saya jelas tidak akan memilih saat-saat ketika kita mulai meninggalkan nihilisme dan dengan dungunya menolak nilai-nilai ciptaan yang hanya mengandalkan nilai-nilai harkat manusia, atau sebaliknya. Menurut pendapat saya, keduanya dapat dibedakan, dan saya mengukur kebesaran seorang seniman (Moliere, Tolstoy, Melville) dari keseimbangan yang dapat mereka hidangkan antara kedua nilai tersebut. Saat ini, karena peristiwa-peristiwa yang melibatkan kita, kita seperti diwajibkan menekankan hal seperti itu dalam hidup kita. Inilah sebabnya mengapa banyak seniman, terbungkuk-bungkuk karena beban ini, mengungsi ke menara gading, atau menyebarkan khotbah-khotbah sosial. Bagi saya, kedua tindakan ini tetap saja tindakan menyerah. Kita harus menanggung penderitaan sekaligus memuja keindahan. Kesalahan kita yang lama, kekuatan kita, rahasia rumit  diperlukan tugas semacam itu merupakan kebajikan yang melahirkan renaisans yang kita butuhkan.

Satu kata lagi. Tugas ini, menurut saya tidak dapat dicapai tanpa menghadapi bahaya dan kekecewaan. Kita harus siap menghadapi bahaya: zamannya seniman-seniman-belakang-meja sudah berakhir. Tetapi kita harus menolak kekecewaan. Salah satu godaan bagi seniman adalah terlalu percaya bahwa mereka sendirian. Dan dalam kenyataannya ini selalu mengiang-ngiang di telinga, dan mendatangkan semacam kebahagiaan semu. Namun itu palsu. Seniman berdiri di tengah-tengah orang yang bekerja dan berjuang, dengan predikat yang sama, sama tinggi dan sama rendah. Tugasnya, jika dihadapkan pada penindasan, adalah membuka penjara dan menyuarakan penderitaan dan kebahagiaan semua orang. Di sinilah seni membuktikan diri di hadapan mereka yang memusuhinya bahwa ia bukan musuh siapa pun. Seni demi seni sendiri barangkali tidak mampu menghasilkan suatu renaisans yang melahirkan keadilan dan kebebasan. Tetapi tanpa keduanya, renaisans tidak akan punya bentuk dan tidak ada apa-apanya. Tanpa budaya, dan kebebasan nisbi yang timbul karenanya, masyarakat yang paling sempurna pun akan menyerupai rimba belantara. Inilah alasannya mengapa setiap ciptaan otentik adalah hadiah bagi masa depan.

(1953).

*Diterjemahkan dari Albert Camus, “An Artist and His Time,” dalam The Myth of Sisyphus and other Essays, terjemahan oleh Justin Oleh’Brien, New York, Vintage Book, a division of Random House, tanpa tahun, hlm. 147—151.

 

Diambil dari buku “Krisis Kebenaran” , Karya Albert Camus, terbitan Yayasan Obor Indonesia. 1988)

indonesiasastra.org

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.