Visi Riau | Visi Riau Madani

Pengungsi Terlantar di Kamp Imigrasi Australia Mengkhawatirkan

0 65

visiriauPapua Nugini – Sebanyak 606 orang yang menolak meninggalkan sebuah kamp imigrasi Australia di Papua Nugini kini terlantar. Banyak dari mereka yang sudah frustrasi. Saat laporan ini di rilis, pengungsi kamp imigrasi mengatakan salah satu dari mereka telah melukai dirinya sendiri sementara yang lain membutuhkan perawatan medis yang mendesak.

Kamp di dalam pangkalan angkatan laut Manus Island dinyatakan ditutup pada Selasa sore berdasarkan keputusan Mahkamah Agung Papua Nugini tahun lalu. Pemerintah Papua Nugini sudah menegaskan bahwa kebijakan Australia untuk menahan pencari suaka ada yang ilegal dan tidak konstitusional. Tapi orang-orang yang tinggal di kamp di Pangkalan Angkatan Laut Lombrun takut akan keselamatan mereka di tempat penampungan alternatif yang tersedia di kota terdekat Lorengau karena ancaman dari penduduk setempat.

Koalisi Aksi Pengungsi yang berbasis di Sydney mengatakan bahwa pemutusan akses listrik pada Rabu pagi mengakibatkan kamp tanpa listrik, termasuk toilet yang beroperasi pada pompa listrik. Mereka masih memiliki air ledeng, meski begitu air tersebut sebenarnya tak layak untuk di konsumsi.

Saat malam hari, para pengungsi mengaku sangat ketakutan karena kondisi ruangan yang sangat gelap. Mereka juga mengkhawatirkan keselamatan jiwa mereka dari tindak kekerasan yang terus berlanjut dari penduduk setempat. Bahkan seorang pengungsi pria asal Iran yang tinggal di sana, Behrouz Boochani, men-tweet: “Seorang pengungsi telah melukai dirinya sendiri dengan pisau cukur. Dia memotong pergelangan tangan dan dadanya. Secara fisik dia baik sekarang tapi secara mental tidak terkendali. ”

Dalam tweet lain, Boochani mengatakan: “Beberapa pengungsi dalam kondisi yang memprihatinkan. Mereka membutuhkan perawatan medis yang mendesak. Mereka telah lama sakit secara fisik. Tidak ada bantuan pengobatan untuk mereka.”

Boochani juga men-tweet bahwa petugas imigrasi Papua New Guinea telah mengirim sebuah bus ke pusat pada hari Rabu pagi untuk membawa pengungsi ke akomodasi alternatif mereka di Lorengau, namun “para pengungsi masih menolak untuk pergi.

Selama empat tahun, Australia telah membayar Papua Nugini, tetangga terdekatnya, dan negara kepulauan Pasifik kecil Nauru untuk menampung pencari suaka yang mencoba mencapai pantai Australia dengan kapal. Mereka adalah Muslim Rohingya dari Myanmar, Afghanistan, Iran, Sri Lanka dan negara-negara lain.

Australia telah mengetahui bahwa banyak pencari suaka adalah pengungsi yang tidak dapat kembali ke tanah air mereka, namun menolak untuk memukimkan kembali orang-orang yang mencoba mencapai negara itu dengan kapal dalam sebuah kebijakan yang dipaksanya dengan melarang penyeberangan laut yang berbahaya tersebut.

Australia dan Papua Nugini masih menemukan kesepakatan mengenai siapa yang bertanggung jawab atas orang-orang Australia yang telah dikenali sebagai pengungsi. Amerika Serikat telah memindahkan 54 dari mereka dalam beberapa pekan terakhir dan mempertimbangkan untuk mengambil hampir 1.200 lainnya.

Dari 606 laki-laki, sekitar 440 orang dianggap sebagai pengungsi yang sah, sementara sisanya dikategorikan sebagai pengungsi liar, termasuk sekitar 50 orang yang telah menolak untuk bekerja sama dengan proses penentuan karena mereka mengatakan bahwa mereka dipindahkan ke Papua Nugini secara tidak sah.

sumber: south china morning pos

Leave A Reply

Your email address will not be published.