Visi Riau | Visi Riau Madani

Arab Saudi Terpukul Mundur Menyusul Kekalahan Mereka di Timur Tengah

114

visiriauTeheran – Perang dingin Iran dan Arab Saudi yang berujung pada keterlibatan mereka pada konflik Timur Tengah semakin memanas. Perang statement pun dilakoni kedua pemimpin negara tersebut. Seperti pernyataan Hassan Rouhani, Presiden Iran yang diberitakan oleh media resmi negara tersebut, kemarin Selasa 28 November 2017 di Teheran, Iran.

“Arab Saudi tidak berhasil di Qatar, tidak berhasil di Irak, di Suriah dan baru-baru ini di Lebanon. Di semua area ini, mereka tidak berhasil,” kata Rouhani dalam sebuah wawancara di televisi Iran.

Selain mengolok-olok kekalahan Arab Saudi di sejumlah medan perang Timur Tengah, Rouhani juga bereaksi atas pernyataan-pernyataan para pemimpin Arab Saudi yang diberitakan oleh sejumlah media di Jazirah Arab.

“Jadi mereka ingin menutupi kekalahan mereka.” timpalnya.

Pangeran Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman menyebut Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei sebagai “Hitler Timur Tengah yang baru” dalam sebuah wawancara kontroversial dengan kolumnis New York Times Thomas L. Friedman.

Baik Iran maupun Arab Saudi telah mendukung berbagai sisi dalam konflik regional untuk mengamankan kepentingan dalam negeri mereka. Bentrokan yang paling menonjol antar keduanya berada di Suriah di mana Arab Saudi mendukung pasukan jihad yang menentang pemerintah Bashar al-Assad dan Iran mendukung Assad. Dengan kekalahan kelompok negara Islam (ISIS), dan dukungan tiga negara besar di Suriah yakni Rusia, Iran, dan sekarang Turki, Assad siap untuk memenangkan konflik panjang dan berdarah.

Ketegangan di Timur Tengah telah membuat Perdana Menteri Saudi mengundurkan diri dari jabatannya. Perdana Menteri Saad Hariri mengundurkan diri dalam pidato di televisi dari Riyadh, ibu kota Arab Saudi, di mana dia mengklaim bahwa pengaruh Iran (beserta sekutunya) dan penyelarasan dengan Hizbullah telah menyebabkan dia takut akan hidupnya.

Pejabat Hizbullah segera mencela tindakan tersebut dengan menyalahkan Arab Saudi dan menyebutnya sebuah provokasi yang dimaksudkan untuk mengacaukan negara Levantine.

Setelah banyak spekulasi tentang kemungkinan penahanan paksa, Hariri akhirnya kembali ke Beirut dan menunda pengunduran dirinya setelah Presiden Lebanon Michel Aoun mendesak politisi tersebut untuk terlibat dalam dialog. Hariri masih mempertahankan kritik publik terhadap Hizbullah.

Rouhani memuji aliansi Iran, Irak, Suriah dan Rusia di kawasan Timur Tengah yang telah mencapai “prestasi besar.” (teleSUR)

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.